Senin, 05 Mei 2014

Habis Gelap Terbitlah Terang






Dalam rangka mengenang perjuangan sosok yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita, yaitu seorang wanita Indonesia yang berjuang untuk kaumnya, wanita Indonesia, yaitu R.A Kartini. Dan setiap tanggal 21 April, Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai tonggak sejarah kelahirannya.

Namun, satu hal yang jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan dalam catatan sejarah, adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. Simak suratnya yang dikirimnya kepada Ny. Van.Berikut ini :

”Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya makin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.

Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya.Kartini sudah berusaha untuk mendobraknya.

Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalah-arti-kan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya :“Door Duisternis Tot Licht” yang telanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.


Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:

”Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya” (QS. Al-Baqarah : 257).

Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba merintis jalan menuju benderang kebenaran Ilahi. Tapi anehnya, tak seorang pun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya.

Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi, mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan.

Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Ia berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan. Dalam sebuah suratnya Kartini mengatakan: ”Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900).

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah:193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)

Benarkah R.A Kartini Pencetus Emansipasi Wanita?
Emansipasi, itulah yang sering disandingkan oleh banyak oknum mengenai sosok Kartini.Benarkah hal ini? Lantas wujud emansipasi semacam apa yang sebenarnya disampaikanKartini? sehingga orang identik menyebutnya sebagai salah satu pencetus emansipasi bagi wanita? Surat Kartini-lah yang akan menjawabnya, di sini;

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.



Pada dasarnya, Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan di atasnya.

Namun Kartini berjuang seorang diri, dengan segala keterbatasan. Ali bin Abi Thalib menegaskan: ”Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”.

sumber :  
My Old Blog

Sabtu, 03 Mei 2014

Get Along With 2 Students from Abroad


Hahahahah, u know what?? I think im gonna be the happiest one in this world cuz it's been a long time im not postin to my blog. Anyway, saya punya cerita menarik seputar pengalaman saya pada hari Minggu, 6 April 2014 kemarin di mana SMAN 1 Purworejo kedatangan tamu istimewa dari Nippon (Japan) dan Belgium. Mereka adalah siswa pertukaran pelajar AFS yang di tempatkan di Semarang. Mereka bernama Shino Abe (Jepang) dan Sarah Mitchell (Belgium) dan mereka semua perempuan. Shino-san ditempatkan di SMAN 9 Semarang sedangkan Sarah di SMAN 4 Semarang untuk menimba ilmu selama setahun (Apa kebalik ya, SMA-nya?? Nevermind, I ain't care :p ). Mereka berada di Semarang sejak bulan Agustus 2013 dan mereka akan kembali ke negara masing-masing sekitar bulan Juli 2014. Mereka sudah bisa berbahasa Indonesia meskipun belum fasih. Pastinya, mereka akan kembali dengan membawa sejuta kenangan dari Indonesia, negara tercinta kita ini :D . Mereka berada di SMAN 1 Purworejo bertujuan untuk saling berbagi pemahaman budaya. Di Purworejo, Mereka sebenarnya tinggal 3 hari 2 malam. Tapi untuk kegiatan mereka fokus hanya satu hari, yaitu pada Hari Minggu. Mereka di Purworejo tinggal bersama host parents sementara. Mereka di sini juga tidak sendiri, ada pihak pendamping dari AFS juga.


       Pada hari Minggu pagi, mereka melakukan kegiatan olahraga bersepeda bersama anggota OSIS/MPK SMAN 1 Purworejo, Pendamping AFS, guru. Well, saya bukan anak OSIS tp kebetulan boleh ikut soalnya lagi kekurangan anak :v . Kami bersepeda dari sekolah lalu mengitari alun-alun dan akhirnya kami sarapan di sebuah warung makan di dekat Stasiun Lama, Purworejo. Kami memesan soto yang rasanya sangat manis. Setelah Selesai makan, kami kembali ke sekolah dengan bersepeda. Jaraknya cukup jauh, namun tidak terasa lelah sama sekali karena kami di perjalanan juga saling berbagi dengan Shino dan Sarah. Nah, ini dia cerita mereka setelah saya wawancarai. Hehehehe,

   1. Shino Abe (Japan)
Ya, Shino Abe. Dia adalah siswi yang berasal dari Hokkaido, sebuah nama pulau di Jepang (dia ga kasih tau tempat dia tinggal scr spesifik sihh :v). Dia orangnya seperti foto di atas, unyu bgtz, muehehehe XD. Dia bilang sekarang di Hokkaido sedang musim semi, suhunya 20 derajat celcius. Kalau musim panas di Jepang suhunya bisa sampai 40 derajat celcius, sama ya kayak di Indonesia. Dia di sini duduk di kelas XI SMA, sedangkan di Jepang dia juga kelas XI SMA.

Shino bercerita kalau di SMA, dia sehari-harinya pergi ke sekolah pakai mobil Namun dia cerita kalau di Jepang kebanyakan orang lebih suka bepergian memakai sepeda. Tidak hanya sepeda, transportasi umum juga sangat digemari di Jepang. Dia bercerita sangat berbeda di Indonesia di mana kalau di sini banyak sekali kendaraan. Inilah yang sebenarnya membuat dia cukup khawatir saat bersepeda di hari Minggu karena mungkin taku tertabrak. But All is well :) . Di Jepang, dia bersekolah dari jam 9 pagi sampai pukul 5 sore. Ada belasan pelajaran yang dia pelajari setiap harinya seperti Bahasa Jepang, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Teknologi, dan lain-lain. Katanya siswa di Jepang harus menguasai teknologi karena hampir semua bidang di Jepang tidak terlepas dari pran teknologi (baca: robot). Bahkan, kata pendampingnya Sarah, kalau mau belajar di Jepang kita tidak hanya belajar bahasanya tapi juga harus bisa teknologi. Katanya di bidang kesehatan, kalau mau operasi bedah misalnya, dilakukan oleh robot, sedangkan manusia hanya mengoperasikan komputer. WOW.

Tak hanya itu, kita juga berbicara mengenai Harajuku. Kita tahu bahwa Harajuku adalah ikon internasional Jepang di mana kebanyakan anak muda memakai baju cosplay dan dandanan aneh-aneh di sana, mulai dari rambut, make-up, dll. Mereka para pelaku Harajuku adalah daya tarik turis seluruh dunia ketika berwisata ke Jepang. Namun, Shino-san sendiri menyebutkan bahwa mereka itu "CRAZY". Dia tidak suka mereka karena mereka aneh. Usut demi usut, ternyata mereka-mereka para pelaku Harajuku adalah mereka yang berasal dari menengah kebawah sedangkan yang tidak suka Harajuku adalah rata-rata menengah ke atas. Atau dengan kata lain, mereka, pelaku Harajuku, dipandang sebelah mata juga di sebagian pihak. 

Ada lagi nihh, kalau di Indonesia saat kelulusan kan menerima nilai hasil belajar juga. Sedangkan di Jepang tidak. Lalu, kalau saat kelulusan setiap siswa di Jepang menerma trofi. Shino sangat suka di Indonesia karena lautnya cantik juga budaya tradisional yang banyak di Indonesia. Sedangkan di Jepang, tidak ada budaya daerah. di seluruh Jepang budayanya sama. Wah, kita harus makin bangga dong jadi orang Indonesia XD.

2. Sarah Mitchelle (Belgium)
Yak, Sarah Mitchelle, siswa AFS yang berasal dari Belgia, dia ditempatkan di Indonesia ternyata setelah di Belgia dia sudah lulus XD . Sama seperti Shino, dia ditempatkan di Semarang bertujuan untuk mempelajari budaya Indonesia. Wisata kuliner dan Hanging-Out ke berbagai kota juga dijajal oleh Shino dan Sarah untuk mempelajari budaya. Maaf ya, saya ga sempet foto2 sama Sarah, soalnya Shino lbh unyu daripada Sarah. But, what she told me about everything in Belgium is makin me interestin with Belgium. Sama seperti Jepang, di Belgia terdapat 4 musim. Di sana berlaku 3 bahasa, yaitu Jerman, Belanda, dan Perancis. Umumnya orang Belgia bagian utara meggunakan Bahasa Belanda, Selatan Perancis, sedangkan Jerman dipakai oleh orang minoritas, yakni sekitar 70.000 orang.

Sarah sudah lulus dari SMA-nya di Belgia. Tidak jauh beda dengan Indonesia, di sana Sarah belajar belasan mapel seperti Bahasa Perancis, Bahasa Belanda, Fisika, Kimia, MTK, Sejarah, dll. Kehidupan sekolah di sana dimulai pukul setengah 9 pagi sampai pukul 4. Faktanya, di Belgia sekolah-sekolah tidak terdapat ekskul. Jadi, kalau seoran siswa ingin mengembangkan bakatnya dia bisa mengikuti klub olahraga bagi yang minat olahraga, atau kursus-kursus lain. Paling cuma ada pramuka di Belgia, hanya saja tidak rutin, hanya berlaku bagi anak-anak yang suka pramuka di sekolah. 

Soal budaya, Belgia tidak memiliki budaya seperti halnya Indonesia. Malah, nilai plus Belgia adalah hanya terletak pada bagian sejarah. Museum-museum di Belgia adalah tempat nongkrong anak muda. Beda dengan Indonesia yang biasanya nongkrong di mall XD. Belgia itu kaya sekali akan sejarah, mulai dari asal-usul dahulu Belgia hingga terbentuknya Belgia. Namun anehnya Sarah sendiri bahkan tidak mengetahui makna bendera kebangsaannya. Lagu kebangsaannya juga tidak tahu. Sangat berbeda dengan Indonesia dan Jepang ya. Tapi bagaimanapun kita harus tahu bahwa setiap negara memiliki cara yang berbeda untuk menanamkan nasionalisme negara masing-masing. Namun catatan penting yang harus kita ambil dari Belgia bahwa kita harus mencintai sejarah negara kita sendiri. Ingatlah apa yang dikatakan Soekarno dulu , JAS MERAH (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH), okay?? :D . Sarah juga bercerita kalau di Belgia, tahun baru adalah momen yang sangat dinanti-nanti oleh masyarakat Belgia. Tahun baru adalah momen yang sangat tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan saling berbagi kasih. Berbeda dengan Indonesia yang mana event tahun baru di negara kita tidak terlalu se-WOW Belgia (Maza seeehh :v ). Hadirnya musim panas pun juga hal yang dinanti-nanti di Belgia. Namun, kebanyakan anak muda di Belgia merayakan musim panas dengan melakukan pesta pora. Kebanyakan mereka " Doing Dirty" saat pesta (U know what I mean ;) )

Wah, senang sekali rasanya bertemu mereka. Banyak hal yang bisa dijadikan palajaran untuk saya dan para pembaca pada umumnya, bagaimana kita seharusnya mengambil hal yang positif, dalam hal ini negara Belgia dan Jepang untuk memajukan negara kita sendiri, Indonesia. 

Author : Hanif Plantae from Blogofhanif.blogspot.com